Thursday, April 26, 2012

Kisah dan Pengalaman Seorang Gay


Ilustrasi Gay
Kamis malam 19 April 2012 lalu, saya diajak salah satu teman saya untuk melakukan liputan tentang salah satu komunitas "kehidupan malam" di ibukota Jakarta ini. Teman yang bekerja di salah satu stasiun televisi swasta itu meminta saya untuk membantunya melakukan liputan tentang "Kehidupan Kaum Gay". Ia mengajak saya, karena sebelumnya saya pernah melakukan perjalanan bersama para blogger untuk melakukan kunjungan sekaligus liputan tentang penderita AIDS di Bali bulan Desember 2011. Memang waktu itu saya sempat mengunjungi pusat para Gay dan transgender di Bali, dan secara kebetulan saya sempat meminta kontak salah satu anggota dari komunitas tersebut.

Dengan berbekal kontak dan informasi dari dia, saya di berikan nomor telepon seorang gay yang tinggal di Jakarta, dan saya langsung meluncur ke lokasi bersama teman saya dan timnya setelah menghubungi untuk berjanjian di salah satu mini market di daerah Jakarta Selatan.


Agak gemetar juga teman saya ketika dalam perjalanan menuju lokasi pertemuan, maklum ini merupakan liputan pertama kalinya ia tentang komunitas Gay, dan agak kurang terbiasa. Teman saya juga sempat mengatakan "Jujur, ini baru pertama kali liputan soal Gay, tapi kalau soal PSK, Kawin Kontrak, pelacur di bawah umur gw masih berani dan udah biasa, giliran ini gw agak takut".


Sesampainya di lokasi, saya dan teman saya mencari orang yang dimaksud berdasarkan dengan ciri-ciri yang telah ia beritahu kepada saya. Tak beberapa lama datanglah seorang pria menghampiri saya dan teman saya. "selamat malam mas, mas yang sms saya ya tadi?" kata seorang pria, "iya, betul saya tadi yang sms mas". Setelah tak beberapa lama mengobrol dan memperkenalkan dirinya pada saya, ia mengajak saya dan teman saya untuk datang ke sebuah kost-kostan di daerah Jakarta selatan, tempat ia bersama temannya tinggal. Ramon (bukan nama sebenarnya), ia menceritakan kisah kenapa dan bagaimana ia menjadi seorang gay.

Gay mungkin kata-kata ini bagi sebagian besar masyarakat Jakarta sudah banyak yang mengetahui, Terutama bagi pecinta kehidupan malam ibu kota. Bagi beberapa masyarakat awam berpendapat bahwa Gay adalah Pria penyuka sesama jenis (homo). Tapi sebenarnya Gay itu adalah sebuah penyimpangan sosial yang terjadi karena seorang lelaki menyukai sesama jenisnya laki-laki. Sesampainya di kostan Ramon kami di ajak bertemu dengan teman satu kostan ia yang bernama Rudi (bukan nama sebenarnya). Kami semua akhirnya memutuskan duduk di sebuah halaman ditemani rokok, makanan kecil, dan minuman ringan. Ramon dan Rudi menceritakan semua kisah hidup mereka selama menjadi Gay.

Rudi dan Ramon (bukan nama sebenarnya)
"Kami berdua ini kalau di gay sebagai wanita mas" kata Ramon, dan dibenarkan oleh Rudi. Mereka berdua juga sudah mempunyai "kekasih" (pria), dan secara kebetulan pas Ramon janjian dengan saya dan teman saya tadi, Ramon diantar oleh sang "kekasih".

Ramon bercerita awal ketika ia manjadi seorng Gay. Ia bisa menjadi seperti ini awalnya karena pergaulan, begitu pula denga rudi, ia juga karena pergaulan. Rudi mengenal dunia seperti ini dari Ramon. "Hati-hati lho mas Gay kayak penyakit yang bisa menular, sekalinya merasakan asyik dan "enak" bisa keterusan mas...hehehehe" kata Rudi sambil tertawa.

Ramon dan Rudi (bukan nama sebenarnya) merupakan "simpanan" salah satu orang yang mempunyai Jabatan di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Biaya Kostan dan hidup mereka semuanya di tanggung oleh sang "kekasih". Kalau dilihat penampilan dan gaya mereka, bisa dikatakan cukup mapan, namun itu semua biaya sang "kekasih" mereka masing-masing. Dan mereka tidak mengkhianati sang "kekasih" dengan alasan karena rasa sayang.

"Kita ga mungkin mengkhianati kekasih kita masing-masing". Kata Ramon. "Dan kita mengizinkan kekasih kita itu untuk menikah dengan wanita normal. Itu kita setuju, asal jangan kekasih (pria) lain.. Kami akan cemburu dan sakit hati" kata Rudi sambil tertawa.

Kalau dilihat dari penampilan mereka berdua, penampilan mereka cukup macho, dan cowok banget. Jujur kalau bisa dibilang wanita normal pun pasti banyak yang mau kalau mereka hidup normal.

Setelah beberapa jam mengobrol dan mewawancarai, kami berdua memohon izin untuk pamit, dan mereka pun mengizinkan kami. " Oh mari mas silahkan, masa mas mau saya tahan disini, mas kan normal... Hahahaha" kata mereka berdua sambil tertawa. "Tapi tolong mas identitas saya di rahasiakan ya" kata Ramon. "Iya pasti" teman saya menyahuti. Akhirnya saya dan teman-teman berpamitan untuk pulang. Mungkin pengalaman tadi bisa dijadikan pembelajaran bagi semuanya dan bisa dijadikan bahan renungan.

No comments:

Post a Comment

blognetwork

There was an error in this gadget